Kamis, 24 Juli 2014

Standar JCI Edisi Kelima / JCI 5th Edition Standards

Standar akreditasi JCI untuk rumah sakit edisi kelima sudah terbit pada bulan April 2014. Ada banyak perubahan pada edisi kelima ini. Secara umum, semua perubahan-perubahan yang signifikan tercantum dalam sebuah tabel di awal setiap bab di mana standar tersebut berada (dibandingkan dengan standar edisi keempat). Jika standar tidak tercantum dalam tabel, berarti tidak berbeda dari standar edisi keempat. Perubahan diklasifikasikan dalam empat hal:
  • Tidak ada perubahan penting – Perubahan kalimat yang dibuat untuk kepentingan kejelasan, tetapi persyaratan dalam standar tidak berubah.
  • Penomoran ulang - Standar pindah dari tempat yang berbeda dalam bab yang sama atau bab lain, dan oleh karena itu, diberi penomoran ulang.
  • Perubahan persyaratan – Perubahan pada satu atau lebih elemen penilaian (EP), yang akan mengubah cara rumah sakit dievaluasi. 
  • Standar baru - Persyaratan baru yang tidak ada pada standar edisi keempat. 

Minggu, 15 Juni 2014

Kejadian Sentinel: Penculikan Bayi di Rumah Sakit

Kasus:

TEMPO.CO, Bandung - Pelaku penculikan bayi di Rumah Sakit Hasan Sadikin, Kota Bandung, pada Selasa malam, 25 Maret 2014, mengenakan jas dokter berwarna putih. Menurut orang tua bayi, Tony Manurung, 26 tahun, penculik sempat menyatakan bayinya harus dirawat.

"Pelakunya wanita hitam manis, matanya agak sipit, tingginya sekitar 165 sentimeter, agak gemuk," kata Toni ketika menggelar jumpa pers di Rumah Sakit Hasan Sadikin, Rabu, 26 Maret 2014.

Sewaktu kejadian, kata Toni, penculik mengenakan jas dokter, kacamata dengan lensa bening dan bingkai hitam, kerudung, serta rok jins yang panjang dan berenda. "Dia mengaku dokter bagian administrasi." 

Penculikan ini terjadi setelah istrinya, Lasmaria Manulang, 23 tahun, melahirkan bayi perempuan di ruang bersalin kelas III, Alamanda, di RS Hasan Sadikin pada Selasa pagi, 25 Maret 2014, sekitar pukul 09.30 WIB. "Setengah jam sebelum melahirkan, istri saya sempat melihat pelaku mondar-mandir di dekat ruang bersalin. Tapi waktu itu istri saya tidak curiga," kata Toni. 

Beberapa saat setelah melahirkan anak keduanya itu, Lasmaria sempat dikunjungi perempuan tersebut. Waktu itu perempuan tersebut sempat menanyakan kondisi Lasmaria. Menjelang sore, Lasmaria dan bayinya dipindahkan ke ruang perawatan Alamanda. Sekitar pukul 16.00, perempuan itu kembali mengunjungi Lasmaria. Dia kembali menanyakan kondisi kesehatan Lasmaria. Lalu, sekitar pukul 19.15, perempuan itu lagi-lagi datang.

Dia menanyakan waktu kepulangan Lasmaria. Waktu itu Tony mengatakan bahwa dia, istri, bayi mereka akan pulang esok."Dia juga meminta KTP saya, tapi dibalikin. Dan saya melihat perubahan raut muka perempuan itu, seperti kecewa," kata Toni.

Lalu perempuan yang disangka dokter oleh pasangan suami-istri itu kembali bertanya-tanya kepada Lasmira yang saat itu sedang tiduran. "Pelaku bertanya ke istri saya, masih mules enggak? Masih menahan kencing? Dia (pelaku) bilang kencing aja, jangan ditahan," kata Toni.

Perempuan itu kemudian meminta Toni mengantar Lasmira ke kamar mandi untuk membersihkan noda darah yang masih menempel pada kaki istrinya tersebut. "Dia memegang bayi dan bilang mau dia bawa ke ruang perawatan bayi. Karena kami menyangka dia dokter, kami menurut saja (meninggalkan bayi) terus saya antar istri ke kamar mandi," ujar Toni.

Setelah keluar dari kamar mandi, Toni melihat bayinya sudah tidak ada di tempat tidur. "Saat itu saya belum curiga. Lalu saya lapor perawat magang karena selimut bayi tertinggal di kasur."

Mendapat laporan itu, perawat magang bingung karena petugas dari ruang bayi tidak pernah menyuruh orang mengambil bayi Toni. Perawat itu kemudian panik dan melapor ke petugas keamanan, yang langsung mengecek rekaman CCTV. Saat itulah Tony baru sadar bahwa bayinya diculik.(ERICK P. HARDI)

Kamis, 05 Juni 2014

Kejadian Sentinel: Bayi Tertukar di Rumah Sakit

Kasus:

Merdeka.com - Terjadi ketegangan di ruang persalinan rumah sakit Dok II Jayapura antara keluarga seorang ibu yang baru melahirkan dengan pihak rumah sakit, Oktober 2013 di Jayapura. Keluarga pasien, tidak terima setelah mengetahui bayi yang baru dilahirkan oleh Agustina menggunakan gelang identitas dengan nama ibu yang berbeda. Hal ini baru diketahui, setelah sang ibu membawa bayinya pulang ke rumah.

Direktur Rumah Sakit Umum Daerah Dok II Jayapura, Papua, Yerry Mzen mengakui insiden tertukarnya gelang identitas seorang bayi yang baru dilahirkan Oktober tahun lalu akibat kelalaian perawat yang bertugas.

Menurut Yerry, tidak ada kejadian bayi tertukar, melainkan tanda pengenal bayi yang salah dipakaikan oleh perawat. Hal itu terjadi karena jumlah tenaga perawat yang berjaga di ruangan persalinan dan bayi hanya tiga orang. Sementara bayi yang dilahirkan sepanjang hari ada 8 bayi.

Selasa, 03 Juni 2014

Kejadian Sentinel / Sentinel Event

Standar akreditasi RS 2012 PMKP.6 EP.1 / JCI QPS.6 ME.1 mensyaratkan agar pemimpin rumah sakit menetapkan definisi kejadian sentinel yang meliputi paling sedikit a) sampai d) yang dimuat di Maksud dan Tujuan. Salah satu yang dapat kita jadikan referensi adalah definisi dari Joint Commission International (JCI) tentang sentinel event, yaitu: “Suatu kejadian tak diharapkan yang menyebabkan kematian atau cedera fisik atau psikologis serius, atau resiko daripadanya. Termasuk di dalamnya (tetapi tidak terbatas pada): kematian yang tidak dapat diantisipasi dan tidak berhubungan dengan penyebab alami dari penyakit pasien atau kondisi medis dasar pasien (contoh: bunuh diri); kehilangan permanen yang besar dari fungsi yang tidak berhubungan dengan penyakit dasar pasien; pembedahan yang salah lokasi, salah prosedur, salah pasien; penculikan bayi atau bayi yang dibawa pulang oleh orang tua yang salah”.

Minggu, 25 Mei 2014

Budaya Tidak Menyalahkan / No Blame Culture

Pada posting sebelumnya sudah kita bahas mengenai Sistim Pelaporan Insiden.  Sistim ini sangat bermanfaat bagi rumah sakit.  Jika rumah sakit kita dapat menerapkannya, maka makin lama makin banyak permasalahan dapat diselesaikan.  Dengan demikian, mutu rumah sakit pun makin lama akan makin meningkat.

Sabtu, 24 Mei 2014

Sistim Pelaporan Insiden / Incident Reporting System

Pada standar akreditasi RS 2012 bab PMKP / JCI QPS, banyak dicantumkan hal-hal yang menyangkut insiden. Standar-standar tersebut adalah:
  • PMKP.3.1 elemen penilaian 1: Pimpinan klinis menetapkan indikator kunci untuk setiap area klinis yang disebut di 1) sampai 11) di Maksud dan Tujuan. Lihat nomor 6 : kesalahan pengobatan (medication error) dan kejadian nyaris cedera (near misses)
  • PMKP.3.3 elemen penilaian 1: Pimpinan manajerial dan klinis menetapkan indikator kunci untuk menilai setiap Sasaran Keselamatan Pasien.
  • PMKP.6 Rumah sakit menggunakan proses untuk melakukan identifikasi dan pengelolaan kejadian sentinel.
  • PMKP.7 Dilakukan analisis jika data menunjukkan adanya variasi dan kecenderungan dari KTD
  • PMKP.8 Rumah sakit menetapkan proses untuk melakukan identifikasi dan analisis KNC
  • PMKP.11 Program manajemen risiko digunakan untuk melakukan identifikasi dan mengurangi KTD yang tidak diharapkan terjadi dan mengurangi risiko terhadap keselamatan pasien dan staf. 

Sabtu, 17 Mei 2014

Cara Mudah Membuat Dokumen Akreditasi RS 2012

Mengingat begitu banyaknya pertanyaan tentang dokumen akreditasi RS 2012, disertai dengan berbagai kebingungan berkaitan dengannya, maka pada posting kali ini saya akan membahas cara mudah dan efektif membuat dokumen akreditasi RS 2012. Mari kita mulai.

Bahan yang dibutuhkan

Untuk bahan baku, kita membutuhkan:
  • Buku Panduan Penyusunan Dokumen Akreditasi
  • Standar Akreditasi RS 2012
  • Koneksi internet untuk mencari referensi

Langkah 1: Pahami Standar

Untuk membuat dokumen akreditasi RS 2012, kita harus memahami standar akreditasi RS 2012 secara menyeluruh. Perlu kita pahami, kebanyakan susunan standar akreditasi RS 2012 menggunakan sistimatika induktif. Artinya dari umum ke khusus. Jadi, kita jangan hanya terpaku dan berhenti pada pembahasan satu elemen penilaian atau standar saja. Lanjutkan saja terus ke elemen penilaian atau standar berikutnya, karena pada elemen penilaian atau standar berikutnya akan dijelaskan secara khusus apa yang diminta. Untuk pembuatan dokumen ini, saya akan menjadikan bab MFK sebagai contoh. Oleh karena itu, mari kita sama-sama membuka dan membaca standar MFK satu demi satu.

Jumat, 02 Mei 2014

Ergonomy

Dalam sebuah publikasi mengenai kejadian low back pain (nyeri punggung bawah) di kalangan pekerja rumah sakit yang dikeluarkan oleh ‘Journal of Advanced Nursing’ pada tahun 2008, didapatkan hasil sebagai berikut:
  • Sebagian besar responden (65.8%) mengalami nyeri punggung bawah.
  • 61.3% diantaranya terjadi dalam 12 bulan terakhir. 
  • Prevalensi tertinggi terjadi pada perawat (77.1%). 
  • Prevalensi terendah terjadi pada sekretaris (54.1%) dan pekarya (53.5%). 
  • Dalam sebagian besar kasus (78.3%), nyeri punggung bawah dimulai setelah responden bekerja di rumah sakit.
  • Dari 33.3% responden yang mencari perawatan medis untuk nyeri punggung bawah yang sedang, 53.8% diantaranya didiagnosis dengan hernia nucleus pulposus (HNP).
Hasil penelitian itu tentu saja perlu diketahui oleh seluruh staf rumah sakit. Ternyata pekerja rumah sakit berisiko tinggi menderita penyakit hernia nucleus pulposus (HNP). Hal ini perlu dianggap penting, karena HNP dapat menimbulkan gangguan kesehatan serius disertai penurunan yang berarti bagi produktifitas dan kualitas hidup penderitanya.

Sabtu, 19 April 2014

Six Sigma

Sigma adalah huruf Yunani yang menjadi simbol untuk standar deviasi. Standar deviasi adalah salah satu ukuran penting untuk variasi. Variasi memiliki arti bahwa suatu proses tidak selalu menghasilkan output yang sama setiap waktu. Variasi akan terjadi pada setiap proses, apapun prosesnya. Mengapa variasi perlu diukur? Ya, karena variasi sangat mempengaruhi kinerja perusahaan dan kepuasan pelanggan. Makin banyak variasi, makin banyak ketidakpastian. Makin banyak ketidakpastian, makin besar ketidakpuasan pelanggan. Inilah pentingnya variasi. Variasi tidak disukai, tetapi pasti terjadi.

Sabtu, 05 April 2014

Prinsip Pareto / Pareto’s Principle

Pada tahun 1906, Vilfredo Federico Damaso Pareto seorang ahli ekonomi Italia menciptakan rumus matematika untuk menggambarkan ketimpangan distribusi kekayaan di negaranya. Ia mengamati bahwa dua puluh persen orang di negaranya menguasai delapan puluh persen kekayaan negara. Inilah yang akhirnya dikenal sebagai aturan 80/20 Pareto, hukum Pareto, atau prinsip Pareto. Setelah Pareto menciptakan formula ini, banyak ahli lain menemukan hal yang serupa di bidang keahlian masing-masing. Sehingga akhirnya mereka berkesimpulan bahwa prinsip Pareto ini berlaku universal.